Jakarta - Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengungkapkan ada seorang dekan yang juga merupakan penganut paham Islamic State of Iraq and Syria. Hal tersebut terbongkar saat dekan tersebut akan dilantik sebagai pimpinan perguruan tinggi.
"Informasi Pak Dikti ada seseorang dekan yang sudah mau jadi, mau jadi pimpinan perguruan tinggi pada saat mau pelantikan, baru ketahuan bahwa dia adalah penganut ISIS," kata Tjahjo saat ditemui di kantor Kemendagri, Jalan Medan Merdeka Utara, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis.
Tjahjo tak menjelaskan lebih jauh apa posisi yang akan ditempati dekan tersebut. Menurutnya kasus seperti ini harus lebih dicermati. Tjahjo mengatakan perguruan tinggi harus dicermati sebagai wadah organisasi pembangunan pola pikir.
"Tanya Pak Mendikti, tapi sebagai contoh itu tadi mau disahkan oleh Pak Mendikti baru ketahuan, satu kasus pun harus dicermati, karena menyangkut mahasiswa dan masyarakat, peran perguruan tinggi sama dengan peran pers bisa berkomunikasi dengan masyarakat, semua lapisan, bisa menggerakan, ikut mengorganisir pembangun bola pikir," ujarnya.
Baca juga: Mendagri: Tak Lagi oleh Dikti, Rektor Kini Dipilih Presiden
Tjahjo menegaskan betapa pentingnya membumikan Pancasila dalam lingkup Perguruan Tinggi.
"Intinya bahwa kerjasama untuk membumikan Pancasila tadi pelajaran Pancasila, wawasan kebangsaan, bela negara, oleh Kemenhan itu termasuk bagian dari pada revolusi mental," ucapnya.
"Bagi kami ini saja masalah membumikan Pancasila termasuk pemahaman NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, Undang-undang 1945, wawasan kebangsaan dan bela negara, empat konsesus dasar," tutupnya.
detik.com
0 Response to "Anut Paham ISIS, Seorang Dekan Gagal Dilantik Jadi Pimpinan Kampus"
Posting Komentar