Pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya mengatakan, serangan siber dilakukan di Indonesia, sejatinya dilakukan berbarengan juga di beberapa negara. Hanya saja, Indonesia termasuk parah.
Merujuk data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, serangan siber ini bersifat tersebar dan massif serta menyerang sumber daya sangat penting. Korban serangan siber itu adalah RS Harapan Kita dan RS Dharmais.
Kata Alfons, saat ini dari total 104.118 domain yang terdeteksi, 102.769 sudah mati dan tinggal 1.349 yang aktif. Celah keamanan yang dieksploitasi adalah Microsoft Security Bulletin MS17-010.
"Jumlah domain yang terdeteksi itu di seluruh dunia. Indonesia termasuk yang parah," kata Alfons saat dihubungi Merdeka.com, Sabtu.
Serangan siber yang menyerang Indonesia berjenis ransomware. Ransomware adalah sebuah jenis malicious software atau malware yang menyerang komputer korban dengan cara mengunci komputer korban atau meng-encrypt semua file yang ada sehingga tidak bisa diakses kembali.
Tahun ini sebuah jenis ransomware baru telah muncul dan diperkirakan bisa memakan banyak korban. Ransomware baru ini disebut Wannacry. Wannacry ransomware mengincar PC berbasis windows yang memiliki kelemahan terkait fungsi SMB yang dijalankan di komputer tersebut.
Alfons menganalogikan ramsomware ini bisa berjalan bila korban mengklik sebuah lampiran. Namun, berbeda dengan Wannacry. Sekalipun dibentengi antivirus, hal itu tak bisa dicegah.
"Kalau ransomware lain untuk aktif perlu korbannya klik lampiran baru bisa aktif. Kalau tidak di klik, ya tidak aktif dan bisa terdeteksi atau dibasmi antivirus lagi. Kalau wannacry tidak perlu ada yang klik. Dia akan bisa menginfeksi tanpa bisa si cegah," ungkapnya. [ang]
merdeka.com

0 Response to "Begini parahnya serangan siber diterima Indonesia"
Posting Komentar