Kementerian Komunikasi dan Informatika menggelar konferensi pers terkait serangan malware yang terjadi di RS Dharmais dan RS Harapan Kita, Minggu. Serangan malware ini masuk dalam kategori ransomware.
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, mengatakan, kejadian ini tak hanya terjadi di Indonesia. Di beberapa negara mengalami hal yang serupa. Kebanyakan menyerang sistem jaringan rumah sakit.
"Jadi, sebelum aktifkan komputer, pastikan tidak terkoneksi ke Internet. Wifi matikan sementara. Kemudian, backup data penting dikopi," kata Rudiantara, di Jakarta.
Dikatakannya, malware ini tidak akan merusak atau menghancurkan data yang dimiliki korban. Hanya saja berdampak pada proses bisnis dari rumah sakit yang terkena.
"Misalnya registrasi biasa pakai online sekarang harus manual. Konsekuensinya setahu saya itu," ungkapnya.
Ransomware adalah sebuah jenis malicious software atau malware yang menyerang komputer korban dengan cara mengunci komputer korban atau meng-encrypt semua file yang ada sehingga tidak bisa diakses kembali.
Tahun ini sebuah jenis ransomware baru telah muncul dan diperkirakan bisa memakan banyak korban. Ransomware baru ini disebut Wannacry.
Wannacry ransomware mengincar PC berbasis Windows yang memiliki kelemahan terkait fungsi SMB yang dijalankan di komputer tersebut.
Wannacry meminta dana tebusan agar file yang 'dibajak' dengan proteksi enkripsi bisa dikembalikan dan diakses lagi. Dana tebusan yang diminta berupa dana bitcoin yang jika dikurskan setara Rp 4 juta. Uang tebusan ini akan makin tinggi jika tebusan tak segera dibayar.
"Ransomware ini melanda dunia. Di dunia yang terkena umumnya pelayanan kesehatan. Jadi penanganannya pun tidak terjadi di Indonesia melainkan juga di dunia juga melakukan hal yang sama. Di dunia juga sedang mengembangkan antivirus lebih baik untuk kasus ini," ucap Rudiantara. [ary]
merdeka.com

0 Response to "Virus 'Wannacry', Menkominfo mewanti pengguna Windows lebih waspada"
Posting Komentar