Handyansyah mendekap erat Lia, calon istrinya, saat meninggalkan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Anak Wanita Tangerang, Minggu. Pria berusia 30 tahun itu mengeratkan pelukannya sebelum melangkah melewati pagar.
"Baik-baik, ya, di sini. Yang sabar," kata Handyansyah.
Sebelumnya, kedua pasangan itu bercengkerama di bawah tenda yang dipasang di halaman depan lapas. Mereka makan bersama sesudah shalat Id dan bercanda ria.
"Lebih enak begini daripada di dalam ruangan kunjungan yang biasanya, sempit, rasanya kayak penjara beneran. Saya hanya ingin bebas pada September ini," ujar Lia.
Bagi Lia, kesempatan untuk dikunjungi menjadi pemompa semangat hidup menuju pembebasan dirinya. Bertemu dengan orang yang dicintai membuatnya tetap berpikir positif.
Hal serupa dikemukakan Riana, yang mengunjungi rekannya di Lapas Perempuan Kelas IIA Jakarta. Riana yang juga mantan narapidana mengunjungi rekan-rekannya yang jarang dijenguk keluarga mereka.
"Di dalam hati, kami selalu bertanya-tanya, adakah keluargaku yang berkunjung? Kalau ada, itu benar-benar membuat kita senang. Dari yang tadinya lagi sakit batuk, pilek, pusing, setelah ada kunjungan bisa langsung sembuh," tutur Riana.
Saat berkunjung, Riana dan pengunjung lain membawa rantang berisi ketupat, opor ayam, dan sambal goreng. Mereka makan bersama untuk berbagi kebahagiaan dan melupakan sejenak duka di penjara.
Kunjungan juga memberi kebahagiaan bagi sang pengunjung. Leman Story mengatakan, dirinya dua kali seminggu datang dari Papua untuk menjenguk keluarganya.
"Bagi saya, mengunjungi keluarga di lapas itu dapat menghilangkan rasa bosan dan risau," kata Leman.
Salah satu yang paling bahagia pada Idul Fitri kali ini adalah Tandi Gunawan. Ia bebas setelah mendapat remisi hari raya.
"Saya terharu hari ini karena mendapatkan remisi sehingga saya bisa bebas," kata Tandi.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 Juni 2017, di halaman 2 dengan judul "Oase Kebahagiaan Itu adalah Kunjungan".
kompas.com

0 Response to "Oase Kebahagiaan Itu adalah Kunjungan"
Posting Komentar