Hingga Selasa siang, ratusan sopir taksi masih berorasi di Bundaran Gladag, Solo. Sekitar 700 armada dari berbagai perusahaan taksi diparkir di Benteng Vastenburg, Jalan Slamet Riyadi dan depan PGS. Para sopir tetap tak mau mengoperasikan armadanya sebelum wali kota dan ketua DPRD datang.
Tri Teguh Susiantoro, koordinator aksi dari Kosti Solo mengatakan, akan menggeruduk Balai Kota dan DPRD, jika kedua pejabat tersebut tak datang ikut berorasi dan mendengarkan aspirasi mereka. Namun jika mereka datang, pihaknya akan membubarkan diri dengan tertib.
Para sopir taksi, lanjut Teguh juga mengecam sikap Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang dinilai lamban dalam bersikap. Kewenangan mengatur taksi online, kata dia ada di tangan gubernur. Ia menilai, secara ekonomi keberadaan taksi berbasis aplikasi online tidak menguntungkan pemerintah. Tidak ada pendapatan tambahan bagi pemerintah daerah.
"Kita sudah kirim surat ke gubernur tanggal 2 Juni untuk audiensi. Kewenangan penambahan kuota dan perizinan aplikasi kan ada pada gubernur. Kalau gubernur melarang, selesai sudah. Tapi kalau tetap lebay seperti ini, ya kembali ke pusat. Sampai sekarang gubernur belum respons, mungkin lagi sibuk urusan dengan KPK," katanya.
Teguh menambahkan, jika Kota Solo dianggap membutuhkan tambahan taksi, ia berharap bisa diberikan kuotanya kepada perusahaan yang sudah ada.
Apalagi, lanjut dia, keberadaan taksi yang sekarang ini terbukti memberikan kontribusi yang cukup banyak untuk anggaran kota Solo, khususnya dari sektor pajak. [cob]
merdeka.com

0 Response to "Demonstran sebut Gubernur Jateng lamban tangani taksi online"
Posting Komentar