Ribuan tenaga medisnya dibajak ke luar negeri, sektor kesehatan Uganda krisis

Sektor kesehatan di Uganda kini sedang dirundung masalah besar. Sebab, ribuan dokter dan perawat mereka dibajak ke Libya dan dikhawatirkan terjadi krisis di dalam negeri.

Dilansir dari laman The Guardian, Selasa, jumlah tenaga medis Uganda direkrut oleh Libya mencapai 1,963 orang. Terdiri dari dokter, perawat, teknisi laboratorium.

Mereka tadinya berdinas di puskesmas dan rumah sakit umum serta swasta setempat. Mereka memilih berpaling mencari peruntungan di Libya lantaran negara itu sedang gencar membangun sektor kesehatan. Lagipula kondisi di Uganda juga sulit. Sayangnya, pemerintah Uganda juga tidak bisa mencegah eksodus tenaga medis mereka, dan tak punya rencana buat mengantisipasi jika terjadi sesuatu di kemudian hari.

"Kalau kesepakatan ini jadi, maka bakal terjadi kelangkaan tenaga medis dan layanan kesehatan memburuk bahkan terjadi krisis," tulis lembaga Koalisi Masyarakat Sipil untuk Advokasi Pencegahan HIV Uganda, dalam keterangannya.

Mereka mendesak pemerintah Uganda mengadakan moratorium sementara buat mencegah eksodus tenaga medis ke Libya.

"Kalau gencar mengirim tenaga medis, maka bakal mempercepat penderitaan dan kematian," kata Direktur Eksekutif lembaga nirlaba Health Global Access Project, Asia Russell.

Perwakilan lembaga Amref Health Africa, Dona Anyona, menyatakan langkah pemerintah Uganda membiarkan ribuan tenaga medisnya pindah bukan langkah yang baik. Sebab, mereka tidak memperhitungkan dampaknya.

"Lagipula hal itu tidak baik bagi investasi karena tidak ada timbal balik. Sebab pendidikan tenaga medis sangat tinggi, apalagi sebagian besar dari mereka kuliah di lembaga pendidikan negeri yang dibiayai dari uang rakyat. Jangan nanti malah rakyat yang membiayai pendidikan mereka tidak mendapat apa-apa," kata Dona.

Sistem kesehatan di Uganda memang sangat buruk. Kelangkaan tenaga medis terjadi di mana-mana. Mereka juga dihadapkan pada fasilitas minim, tanpa akomodasi dan transportasi memadai, dan juga banyak yang upahnya kecil dan belum dibayar berbulan-bulan. Obat-obatan berkualitas juga sulit didapat.

Dari riset pada 2015, baru 69 persen posisi tenaga medis di seluruh institusi kesehatan terisi. Sedangkan dari data didapat tiga tahun sebelumnya, perbandingan antara jumlah dokter dan pasien ada di angka 1:24,275. Sedangkan rasio perawat dan pasien mencapai 1:11 ribu. Kalau merujuk pada rekomendasi, idealnya seorang tenaga medis paling banyak menangani seribu pasien.

Kebijakan pemerintah Uganda membiarkan tenaga medisnya memilih bekerja di luar negeri pernah digugat tiga tahun lalu. Hingga kini perkaranya masih berjalan. Kebanyakan perekrut adalah agen tenaga kerja lokal yang langsung membikin kontrak dengan negara dituju, tanpa melalui perantara pemerintah.

"Kami sebagai pemerintah enggak bisa menghentikan eksodus tenaga medis ke luar negeri karena itu pilihan pribadi. Karena kami mendukung kebebasan buruh, kami tidak punya alasan buat menghentikan mereka," kata Menteri Kesehatan Uganda, Sarah Achieng Opendi.

Sarah mengakui sebegitu parahnya layanan kesehatan di Uganda. Dia mengatakan institusi kesehatan yang ada tidak bisa mempekerjakan lulusan baru sekolah kedokteran, keperawatan, atau farmakolog karena tidak punya uang buat membayar gaji. Meski sudah mencoba berbagai cara, seperti memberikan beasiswa, hal itu tidak berhasil.

Russell mengatakan paling tidak ada beberapa faktor mengapa layanan kesehatan di Uganda sangat buruk. Yakni pemerintah enggan menggaji tenaga medis dengan upah yang layak, pekerja medis tidak dikirim ke lokasi paling membutuhkan, dan peralatan yang membikin mereka kesulitan menjalankan tugas. [ary]

merdeka.com

loading...

0 Response to "Ribuan tenaga medisnya dibajak ke luar negeri, sektor kesehatan Uganda krisis"

Posting Komentar

loading...