Jakarta - Kasus penyerangan penyidik senior KPK Novel Baswedan sudah memasuki hari ke-32 namun belum memperoleh titik temu hingga kini. Meski polisi sudah pernah mengamankan beberapa orang, tak membuatnya lantas usai.
Sementara itu, desakan datang dari berbagai pihak agar kasus ini segera diusut tuntas. Sebab, kuat dugaan kasus tersebut berunsur politis, berkaitan dengan kasus korupsi e-KTP yang saat itu ditangani Novel, dan melibatkan pejabat negara.
Novel mengalami teror penyiraman air keras oleh orang tak dikenal setelah menunaikan salat subuh di Masjid Al-Ihsan, Selasa, di dekat kediamannya, Jalan Deposito T Nomor 8, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Ada dua orang yang berboncengan di satu sepeda motor mengikutinya. Setelah mendekati Novel, satu orang menyiramkan air keras. Ia kemudian segera dilarikan ke Rumah Sakit Mitra Kelapa Gading. Bagian dahi dan sekitar mata, terutama sebelah kiri, merupakan bagian yang paling melepuh.
Pada hari itu juga Novel sempat menyampaikan secara langsung kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian soal penyerangannya. Empat belas orang yang berada di sekitar tempat kejadian saat Novel diserang segera diperiksa. Polisi juga sudah mengamankan barang bukti dari lokasi kejadian, yakni cairan yang digunakan penyerang, termasuk gelas melamin yang digunakan pelaku untuk menyiramkan air keras kepada Novel serta kamera CCTV milik Novel untuk melihat rekaman saat penyerangan terjadi.
Banyak orang mengutuk keras kejadian ini, termasuk Presiden Joko Widodo. Jokowi langsung memerintahkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian mencari pelakunya.
"Saya perintahkan kepada Kapolri untuk dicari siapa. Jangan sampai orang-orang yang punya prinsip teguh seperti itu dilukai dengan cara-cara yang tidak beradab," kata Jokowi di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat.
Sementara itu, Novel kemudian dipindahkan ke Jakarta Eye Center, Jl Teuku Cik Ditiro, Menteng, Jakarta Pusat, sebelum akhirnya dirujuk ke Singapura keesokan harinya untuk memperoleh perawatan intensif pada matanya. Selain keluarga, beberapa rekan dari KPK turut menyertai.
Novel Baswedan akan dipindahkan ke Singapura. |
Dukungan dalam bentuk aksi simpatik terus berdatangan. Tak hanya di Jakarta, pada Kamis, aksi simpatik sempat dilakukan oleh Komite Rakyat Pemberantasan Korupsi di Blitar. Ada pula aksi Guardians of KPK, aktivis berkostum superhero, pada Senin, yang mengundang perhatian. Mereka meminta Presiden dan Kapolri segera mengusut tuntas serangan terhadap Novel.
Pada Senin, Jokowi mengabulkan permintaan Ketua KPK Agus Rahardjo agar negara menanggung biaya pengobatan Novel. Dananya berasal dari anggaran pos kepresidenan.
"Presiden telah menerima dan membaca surat dari Ketua KPK terkait dengan Saudara Novel Baswedan, penyidik KPK. Surat yang disampaikan oleh Ketua KPK adalah permohonan dan permintaan agar negara membiayai pengobatan dan perawatan Saudara Novel Baswedan," kata juru bicara Presiden, Johan Budi, dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Senin.
Berikutnya Kapolri Jenderal Tito Karnavian sempat menyebut timnya telah mengamankan dua orang terkait dengan penyerangan terhadap Novel. Dari pemeriksaan awal, diduga keduanya bukan pelaku langsung penyerangan terhadap Novel.
"Ada dua orang yang sudah kami amankan, tapi bukan pelakunya," ungkap Tito seusai acara ramah-tamah dengan civitas academica Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Rabu.
Belakangan diketahui, dua orang tersebut berinisial M dan H. Hal ini baru dikonfirmasi oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis.
Dua orang tersebut diperiksa polisi, termasuk dilakukan pengecekan alibi. Namun, dari hasil pemeriksaan, dipastikan keduanya bukan pelaku yang dicari.
" saksi H ini berada di Bekasi, saudaranya kami periksa, yang bersangkutan bukan pelakunya. Yang kedua berinisial M, posisinya ada di Tambun," ucapnya.
Untuk menindaklanjuti kasus ini, pada Sabtu, Kapolri Jenderal Tito mengatakan telah mengirim tim untuk meminta keterangan secara langsung kepada Novel terkait dengan orang yang kemungkinan dicurigainya. Novel kemudian menunjukkan sebuah foto yang kemudian diidentifikasi polisi sebagai AL. AL kemudian diamankan di kawasan Jakarta pada Selasa lalu. AL juga sudah menyampaikan alibinya ke polisi, yang intinya ia tidak berada di lokasi kejadian pada Selasa, 11 April, subuh saat penyerangan terjadi.
Namun, setelah diperiksa, AL kemudian dilepaskan karena terbukti alibinya tidak cocok dengan pelaku penyerangan. Sementara itu, belum diketahui dari mana asal Novel memperoleh foto AL. Sebab, saat tim penyidik bermaksud memeriksa Novel kala itu, dokter yang merawatnya hanya memperbolehkan wawancara singkat.
Sementara desakan pembentukan tim independen dari masyarakat semakin kuat, KPK menyatakan perlu ada strategi dan taktik baru yang perlu disusun bersama antara Polri dan KPK. Namun sebelumnya, KPK perlu bertemu dengan Presiden Jokowi untuk membahas perkembangan kasus penyerangan Novel.
"Kita belum bicara sampai secara spesifik apa dibentuk tim independen, tim pencari fakta, atau perkuat tim yang ada atau joint operation. Tapi lewat dari 30 hari kita nggak bisa hanya nunggu saja. Perlu ada strategi lain yang diperlukan dan kita yakin Presiden concern betul karena dia kutuk keras aksi tersebut," ujar Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di gedung KPK, Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat.
Di samping itu, pihak keluarga Novel juga mengungkapkan kekecewaannya karena sudah lewat sebulan pelaku tak kunjung tertangkap.
"Kami juga mendapatkan informasi dari pihak Novel dan keluarga bahwa pihak keluarga cukup kecewa karena lebih dari satu bulan pelaku penyerangan belum terungkap. Kekecewaan itu juga disampaikan kepada kami," kata Febri.
Pengungkapan pelaku teror bukan semata demi keadilan untuk Novel. Lebih dari itu, ini penting untuk meyakinkan KPK serta seluruh pihak yang memperjuangkan antikorupsi agar tidak khawatir.
"Ini bukan hanya Novel, tapi juga kekhawatiran pada penyidik KPK lainnya dan seluruh unsur masyarakat yang memberantas korupsi. Kita tahu ini tidak terjadi satu-dua kali. Tidak ada yang kita tahu dan tidak dengar pelaku diproses secara tidak tuntas. Kekhawatiran itu kami tahu," ujar Febri.
detik.com

0 Response to "Misteri Kasus Novel yang Belum Terungkap hingga Sebulan"
Posting Komentar