Menurut Komarudin, rencana pemutaran kembali film besutan sineas kenamaan Arifin C Noer tersebut tidak luput dari kepentingan. Hal itu sesuai dengan kepentingan dari pihak-pihak yang menggelindingkan rencana tersebut.
"Jadi itu multidimensi. Ketika orang ngomong sesungguhnya kan apa sih maunya, tidak bisa luput dari kepentingan yang membicarakan," kata Komaruddin kepada detikcom usai mengisi kuliah umum Mahasiswa Pascasarjana di UGM, Yogyakarta, Senin.
Terlepas dari unsur kepentingan tersebut, kata Komaruddin, setiap film termasuk film 'Pengkhianatan G30S/PKI' bisa dikritik oleh siapapun. Film itu pun bisa dimaknai beragam, tergantung sudut pandang orang yang melihat.
"Di lihat dari pandangan militer beda, kalangan sejarawan melihat mungkin beda. Kemudian analisis internasional terkait keterlibatan asing mungkin sekali," ucap mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
Menurut Komaruddin, sekarang ini bukan waktu yang tepat untuk mengorek lebih dalam sejarah kelam di tahun 1965. Salah satu alasannya, sistem perpolitikan di Indonesia masih belum mapan, banyak kepentingan apalagi menjelang Pemilu seperti sekarang.
"Mungkin 15 tahun lagi kita lebih obyektif membahas hal itu. Boleh lah melihat Film G30S/PKI, tetapi masih sulit dingin untuk sekarang ini," pungkasnya.
detik.com

0 Response to "Situasi Saat Ini Dinilai Belum Siap untuk Membuka Tragedi 1965"
Posting Komentar