Kabul - Jumlah korban jiwa akibat ledakan bom di kawasan diplomatik di Kabul, Afghanistan mencapai 90 orang. Ratusan orang lainnya luka-luka dalam serangan itu. Para pemimpin dunia mengecam serangan bom truk pada Rabu tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menelepon Presiden Afghanistan Ashraf Ghani untuk menyampaikan belasungkawa. Dikatakan Trump, waktu terjadinya serangan bom di bulan suci Ramadan menekankan "sifat barbar para teroris yang merupakan musuh semua masyarakat beradab".
"Dia juga memuji pasukan keamanan Afghan atas upaya-upaya gigih mereka untuk membela rakyat Afghan dari musuh-musuh yang ingin membuat mereka tak mendapatkan keamanan dan kemakmuran yang sangat layak mereka dapatkan," demikian disampaikan Gedung Putih seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis.
Ledakan bom tersebut merusak sejumlah kedutaan di kawasan diplomatik. Setidaknya 11 warga Afghan yang bekerja sebagai petugas keamanan di kedutaan Amerika Serikat termasuk di antara korban tewas. Sebanyak 11 warga negara AS yang bekerja sebagai kontraktor di Kabul juga terluka dalam insiden itu.
Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel mengatakan, serangan itu terjadi di dekat Kedutaan Jerman dan juga menewaskan seorang petugas keamanan di kedutaan tersebut. Kedutaan Prancis, India, Turki, Jepang, Uni Emirat Arab dan Bulgaria juga melaporkan kerusakan pada gedung mereka.
Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres menyampaikan "kebenciannya" atas serangan bom itu. Dikatakannya, serangan itu menekankan pentingnya perang melawan terorisme dan ekstremisme keji.
Sejauh ini belum ada kelompok yang mengklaim serangan tersebut. Namun badan intelijen Afghanistan menyalahkan jaringan Haqqani yang bersekutu dengan Taliban atas serangan tersebut. Kelompok Taliban sendiri telah membantah keterlibatan, seraya mengecam keras serangan bom itu.
detik.com
0 Response to "90 Orang Tewas Akibat Ledakan Bom di Kabul, Ini Kata Donald Trump"
Posting Komentar